Kita Homo Sapiens, manusia bijak yang tidak bijak
oleh Karen Wibi Hariyanto 1643010106
oleh Karen Wibi Hariyanto 1643010106
Homo sapiens atau yang oleh Peneliti biasa disebut Manusia bijak atau cerdas adalah salah satu dari sekian Genus Homo yang pernah hidup di Bumi ini. Selain kita sebagai Homo sapiens, ada lagi Genus Homo-homo yang lain seperti Homo Neanderthal, Homo Denisova, Homo Habilis, dan Homo Florensis. Sapiens adalah salah satu Genus yang mulai berevolusi di dataran Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu dan mulai menyebar keseluruh bumi seitar 70.000 tahun yang lalu. Meski kita pernah hidup bersama Genus-genus homo lainnya, namun secara tiba-tiba sekitar 50.000-12.000 tahun yang lalu, Genus Homo lainnya mulai pamit untuk punah. Dan kepunahan dari Genus Homo lainnya selalu serentak setelah kedatangan Sapiens. Entah disengaja atau tidak. Kita sebagai Sapiens memiliki peran dalam kepunahan saudara-saudara kita.
Sapiens memiliki kelebihan khusus dibanding Genus Homo lainnya, kita memiliki kemampuan kognitif yang sangat luar biasa. Dalam ribuan tahun saudara-saudara kita hanya memilki senjata tombak yang hanya digunakan untuk berburu. Namun dengan pengetahuan Kognitif kita yang terus berkembang. Kita dapat membuat dan memanfaatkan berbagai jenis senjata dan perkakas lain. Namun dengan kemampuan Kognitif kita yang jauh melampaui jenis Genus-genus Homo lainnya. membuat kita secara otomatis memuncaki rantai makanan.
Dari latar tersebut. Secara perlahan namun pasti, Sapiens mulai menjadi penguasa Bumi. Sifat rakus dan tamak mulai tumbuh pada Sapiens. Kita selalu merasa menjadi Spesies khusus di Bumi. Pembenaran seperti itulah yang membuat kita seakan lebih Superior dari Spesies-spesies lain. Mungkin ada beberapa Agama yang berkata demikian. Namun bukan berarti kita dapat seenaknya pada Spesies-spesies lain.
Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang (Chairil Anwar, puisi yang berjudul “Aku”). Pada puisi Aku karya Chairil Anwar. Seakan menggambarkan bagaimana kita, Sapiens merasa seakan melebihi spesies-spesies lain. Bahkan mungkin sifat-sifat Rasisme dan Egosentris tumbuh sejak nenek moyang kita. Dimulai dari bagaimana Sapiens membuat Homo lainnya punah. Dan kerusakan bumi yang kita tinggali.
Homo Neanderthal
Homo Neanderthal adalah salah satu Genus Homo. Diperkirakan punah sekitar 30.000 tahun yang lalu. Punah pada masa Pleistosen. Spesiesnya berada di Eurasia, dari Eropa Barat hingga Asia tengah dan utara. Neanderthal ini adalah salah satu Homo yang hampir mirip dengan Sapiens. Hanya beda pada kemampuan Koognitif. Neanderthal tidak memiliki tokoh-tokoh cerdas seperti Socrates, Plato, maupun Aristoteles pada masanya. Namun kita punya. Dari sekian banyak Genus Homo yang sudah punah. Akan sangat menarik membahas Neanderthal ini. Bagaimana tidak, satu-satunya saudara yang hampir mirip dengan kita punah begita saja sesaat setelah Sapiens masuk ke Eropa dari Afrika.
Banyak teori yang menjelaskan bagaimana Neanderthal ini punah. Dari perkawinan campuran atau karena adanya perang dengan Sapiens. Semua bisa berspekulasi. Namun menurut yang dipaparkan oleh Yuval Noah Harari dalam buku berjudul Sapiens, beliau menjelaskan salah satu hal yang membuat Neanderthal punah adalah tidak bisa mengikuti kebiasaan bergosip Sapiens. Bergosip pada masa lampau dapat dijadikan cara untuk memilih koloni. Seperti nenek moyang kita kera Bonobo. Pejantan Alpha yang bergosip untuk membuat sebuah koloni baru.
Adapula isu-isu rasisme pada waktu itu. Kita sebagai Sapiens-sapiens yang berakal membuat jarak antara Sapiens dan Neanderthal. Seperti itulah kita. Dengan semakin memiliki posisi pada hukum alam. Neanderthal semakin terdesak dan akhirnya punah oleh kita, Sapiens.
Homo Homini Lupus
Manusia adalah serigala bagi manusia lain. Itu adalah istilah yang dikemukakan oleh Plautus pada tahun 945. Tidak merujuk pada salah satu Genus Homo secara harfiah. Sifat ini adalah salah satu sifat alami manusia. Budaya ini sudah tercipta sejak puluhan ribu lalu. Manusia memang rakus. Salah satu bukti adalah saat kita secara sengaja maupun tidak memusnahkan Homo-homo lain. Neanderthal dan Denisova di Eropa. Mojokertensis, Soloensis, dan Florensis yang semuanya ada di Indonesia. Sapiens kadang dapat bersembunyi pada isitilah Hukum dan seleksi alam. Namun kemunculan Sapiens berbanding lurus dengan punahnya Spesies-spesies dari Genus Homo lainnya.
Saat ini pula budaya Homo Homini Lupus masih benar-benar ada pada kita. Banyak bagainaa dalam sejarah menceritakan. Perang Dunia 1 & 2. Perang Salib, dan perang lainnya. Itulah sebenar-benarnya gambaran dari kita, Sapiens. Yang menjadi Serigala untuk sesama. Namun budaya ini tidak dapat disalahkan secara seratus persen. Pada saat kita bercampur dengan Neanderthal, atau Homo-homo lainnya. Karena seperti sifat saudara kita Kera Bonobo ataupun kera lainnya. Kita selalu bersifat Teritorial. Entah untuk melindungi sumber makanan, kawanan, ataupun itu memang sudah ada dalam Gen.
Sejak sangat dulu sekali. Kita berevolusi yang tadinya hanya seekor kera Primitif, dan menjadi Sapiens atau manusia yang benar-benar kompleks. Manusia menciptakan pengetahuan-pengetahuan yang luar biasa. Yang Homo-homo lainnya tidak dapat menciptakan. Seperti menciptakan uang, kepercayaan, Negara, dan lain sebagainya. Namun dengan kemaha kuasanya kita sebagai manusia. Sejenak kita lupa. Kita diciptakan sama seperti mereka. Memiliki akal maupun nalar, tidak bisa jadi pembenaran. Kita harus mengakui kitalah yang terlampau Egois dan rakus. Sudah saatnya kita memandang jijik dengan apa yang sudah dilakukan nenek moyang kita. Saling menghormati Spesies lain. Sudah banyak orang yang memperjuangkan Hak asasi lumba-lumba. Tapi kita harus menyama-ratakan Hak asasi yang ada. Entah Hak asasi Manusia dan hewan. Karena itulah yang membuat kita menjadi Sapiens seutuhnya. Manusia yang cerdas atau bijak. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar