Langsung ke konten utama
Nama   : Ivan Divya Fauzan
Kelas   : B43
NPM   : 1643010025

Satay Gahol, Jajanan Murah Penunda Lapar


Sembari menunggu pergantian mata kuliah, Lukman dan kawan-kawannya dilanda perdebatan yang tidak terlalu cukup serius. Mereka berdebat apakah iya mereka harus makan Mie ayam atau Ayam Geprek di Kantin, Secara kedua makanan itu tergolong kedalam makanan dengan porsi berat. Menjadi perdebatan karena separuh diantara mereka sudah kenyang, setengahnya lagi sudah tidak lapar, lho. Selain faktor porsi mereka terlalu malas untuk menerjang terik matahari yang menaungi antara Kantin Kuda dan Gedung FISIP II UPNVJT, ini tidak berlaku pada Lukman. Namun diantara faktor-faktor tersebut ada faktor paling dominan yaitu tanggal tua, ya mereka belum mendapat kiriman dari kampung. Terjawab sudah akhir dari perdebatan ini, mereka tidak jadi ke Kantin dan memilih Hape-an di Kelas sembari menunggu kuliah.
Fenomena perdebatan seperti ini tidak hanya dialami oleh Lukman dan kawan-kawannya, melainkan terjadi pada hampir semua mahasiswa, tak jarang hingga timbul konflik horizontal diantaranya. Hingga suatu ketika muncullah ‘Satay Gahol’ yang dijajakan oleh seorang mahasiswa bernama Welly Kurnia Sari. Bak oase di tengah gurun, jajanan tersebut menjadi solusi bagi Lukman dan kawan-kawannya serta mahasiswa-mahasiswa lain.
Lantas apa itu Satay Gahol ?, “ Satay Gahol itu masakan yang berbahan dari 4 macam frozen food terus di masak menggunaka bumbu bbq/balado” Kata Welly. Seperti yang telah disampaikan, jajanan tersebut terdiri dari 4 macam makanan beku antara lain sosis sapi/ayam, Ham sapi, otak-otak, atau bakso udang. Keempat makanan beku tersebut ditusuk menjadi satu dan diberi bumbu balado atau Barbeque. Dari uraian tersebut, sudah bisa dibayangkan betapa lezatnya jajanan ini. Semua kelezatan tersebut dapat ditebus dengan cukup murah hanya tiga ribu rupiah saja
Dalam proses pembuatannya, Satay Gahol cenderung lebih mudah dibuat dan kata Welly “ngga ribet bikinya”. Selain mudah, bahan bakunya yaitu frozen food merupakan makanan yang cukup awet karena telah diproses sedemikian rupa. Cukup dengan memasukannya kedalam freezer kulkas, simsalabim, makanan tersebut akan awet berminggu-minggu.
Bukan bisnis namanya kalau bukan tantangan atau kesulitan. Menurut Welly kendala terbesar adalah bangun lebih awal. Bangun lebih awal menjadi masalah universal yang dialami hampir seluruh mahasiswa. Di tengah jadwal perkuliahan dan kegiatan yang cukup padat, Welly harus merelakan bangun lebih pagi dari ayam jago guna mengolah Satay Gahol. Pasalnya dalam proses pra hingga pasca produksi Welly memilih menjadi “One Man Crew”, masak... masak sendiri, jual pun juga sendiri. Selain bangun pagi masalah kedua yang kerap menerpa Satay Gahol adalah bahan bakunya yang tidak mesti tersedia. Kadang ia harus memutar otak untuk mencari bahan baku pengganti agar tidak mengecewakan pelanggan setianya seperti Lukman dan kawan-kawan. Meskipun lelah, semua hasil usahanya akan terbayar jika daganganya laku keras.
Menarik memang konsep yang ditawarkan Satay Gahol, kehadirannya mampu memberikan warna tersendiri di belantika perkulineran kampus. Jika ditarik mundur awal mula hadirnya jajanan tersebut, Welly sempat mengurungkan niatnya untuk jualan, karena temanya telah juga berjualan sate di kampus. Namun sate tersebut merupakan sate jeroan (usus, ati, ampela), ih kolestrol. “Dari dulu itu pingin jualan cuman ada teman ku (heru) sudah jualan yaudah ku urungkan niat berjualanku, terus semester ini heru gak jualan yaudah aku jualan, aku terinspirasi jualan satay gahol bukan suki ya ,itu dari tante di kantin yg jualan suki mahal ,aku kasihan sama anak anak kalo beli di situ kemahalen dan rasanya menurutku gak seberapa enak.”  
            Ke depan, Welly berharap Satay Gahol bisa beredar di seluruh universitas di Surabaya. Sehingga tidak akan ada lagi perdebatan sebaya seperti Lukman dan kawan-kawannya.  










    

Komentar