Shift Malam
Cita-citaku
satpam?
Pernahkah enggak kita bertanya sama anak kecil apa cita-citanya
kalau sudah
besar? Jawabannya pasti mengarah ke suatu
pekerjaan. Dan kebanyakan mereka menjawab: mau jadi dokter,
presiden, guru, pramugari, polisi, tentara dan lainnya. Jarang atau mungkin
hampir nggak ada satupun yang bilang "saya ingin menjadi seorang satpam". Bahkan kita pun tidak ada
yang bercita-cita menjadi satpam. Karena
memang profesi ini di pandang sebelah mata. Padahal profesi ini tidak kalah
dengan TNI ataupun POLRI.
Faktanya satpam adalah sebuah profesi yang legal karena berdiri dibawah naungan POLRI.
Bahkan ada Undang-undang tentang satpam, yaitu pada Perkap no. 24 tahun 2007 tentang
Sistem Manajemen Pengamanan Organisasi, Perusahaan dan/atau instansi/lembaga pmerintah. Dalam sejarahnya lembaga
ini secara resmi dibentuk pada tanggal 30 Desember 1980 melalui Surat Keputusan
Kapolri (saat itu dijabat Jenderal Polisi Awaloedin Djamin) yang mengeluarkan
SKEP/126/XII/1980 tentang Pola Pembinaan Satuan Pengamanan. Dan
setiap tanggal 30 Desember diperingati sebagai HUT Satpam di Indonesia, dan kalian
pasti tidak tahu.
Menjadi seorang petugas keamanan
tidaklah mudah, karena tanggung jawabnya yang besar. Berikut adalah cerita dan
pengalaman dari Dwi Bakti, seorang satpam di PT.
Airmas Internasional yang bergerak di bidang distributor. Pria 36 tahun asal
Surabaya ini memulai karirnya sebagai personil satpam outsourcing di PT. Esa
Garda Pratama. Jadi, PT. Esa Garda Pratama ada perusahaan yang bergerak di
bidang jasa pengamanan. Perusahaan tersebut menyediakan satpam-satpam yang siap
menjaga apa yang dibutuhkan klien.
Setelah menjadi personel satpam outsourcing, Dwi naik
tingkat menjadi DANRU (Komandan Regu) sampai jadi supervisor area. “Soalnya
di outsourcing tidak ada pengangkatan
pegawai tetap, saya keluar mas. Soalnya saya juga mikirnya ke depannya juga mas”,
kata Dwi.
Kemudian Dwi bergabung dengan PT. Airmas
Internasional pada bulan agustus 2017.
PT. Airmas Internasional merupakan
induk perusahaan. Perusahaan ini memiliki banyak anak perusahaan salah satunya
Vino, yang bergerak di bidang hiburan, sejenis club-lah. Dan Dwi di tempatkan disini, terletak di jalan Kedungdoro.
Di Vino, Dwi bekerja dengan sistem 4:2. Yaitu empat hari kerja dan dua
hari libur. Sementara Dwi mendapat jatah
dua hari shift pagi dan dua hari shift malam. Ada empat personil satpam yang
bekerja di Vino termasuk Dwi. Mereka berjaga secara bergantian dengan porsi
yang sama. Dengan shift malam dimulai dari jam tujuh malah hingga jam tujuh
pagi.
Ada beberapa pengalaman yang menarik dan berkesan bagi Dwi
selama bekerja menjadi satpam. Diantaranya adalah ketika dia masih bekerja
outsourcing pada salah satu Gudang batu bara di jalan Margomulyo 68, Surabaya.
Pada waktu itu ia sedang berpatroli di daerah Gudang tersebut, lalu ia
menemukan dua maling yang hendak mencuri limbah batu bara melalui pintu
belakang. Akhirnya Dwi yang pada saat itu bersama rekan satpamnya menangkap
kedua maling tersebut meski sempat bersitegang karena kedua maling tersebut
berusaha melawan. Setelah tertangkap, kedua maling itupun diserahkan kepada
polsek setempat.
Kemudian pengalaman yang berkesan berikutnya datang ketika Dwi bekerja di
tempat barunya ini, Vino. Mulai dari kebiasaanya melerai orang mabuk hingga
mendapat cinderamata dari makhluk gaib. Hal itu berawal dari aduan dari
karyawan Vino yang ketika bab di lantai 3 mendapat gangguan makhluk gaib
tersebut. Akhirnya, dengan tangan kosong dan tidak bermodal apa-apa, Dwi nekat naik ke lantai 3 untuk nge-check aduan tadi. Sampai disana, dia dengan beraninya berteriak “aku disini tidak berniat ganggu, justru aku niat bantu kamu jaga!”.
Tidak lama kemudian dia merasakan ada sesuatu yang jatuh mengenai sepatunya. Setelah di sorot
pakai lampu semter, ada sebuah batu akik tergeletak di depan kakinya, lalu diambil dan
disimpannya sampai sekarang.
Oh iya, Kalian pasti tidak akan menyangka kalau Dwi ini adalah lulusan
strata-1 akutansi dari salah satu universitas swasta di Surabaya. Ketika
ditanya kenapa memilih menjadi satpam, ia pun menjawab, “soalnya pada tahun 2000an keatas pekerjaan untuk s1 itu susah, saking
menjamurnya s1. Akhirnya mau gak mau ya pilih ini. Toh biaya Pendidikan satpam
dari saya sendiri”, jawabnya.
Perlu diketahui, satpam pun memiliki jenjang
pendidikan. Pada level outsourcing, personel satpam baru harus mengikuti
pendidikan/pelatihan selama 2-1 bulan tergantung orangnya. Lalu ketika personel
satpam tersebut diterima di sebuah perusahaan, dia akan mengikuti pelatihan
yang ditangani langsung oleh Brimob. Barulah dia mendapatkan sebuah KTA (Kartu
Tanda Anggota) satpam. Sehingga mengukuhkan bahwa orang tersebut memang layak
menjaga kliennya.
Apapun profesinya, pasti ada plus dan minus-nya.
Meskipun dipandang sebelah mata, satpam memiliki fungsi setara polisi. Bahkan
bias dibilang garda terdepan polisi. Dengan tanggung jawab yang tidak kalah
besarnya. Seorang satpam harus siap menjaga majikannya, bagaimana pun
ancamannya, karena merupakan resiko pekerjaan tersebut.
Dari kisah Dwi diatas, ada sedikit pelajaran tentang
kehidupan. Ketika Dwi yang merupakan lulusan s1 akutansi, bermimpi menjadi
seorang akuntan yang kesehariannya berhadapan dengan uang. Namun mimpi hanyalah
mimpi ketika takdir membawanya menjadi seorang satpam yang kesehariannya
berhadapan dengan cctv dan peralatan
keamanan lainnya. Terkadang hidup itu chaos!(Ibnu Rusman Saleh 1643010107)
Komentar
Posting Komentar