Persona Non Grata
Penjaga Palang Kereta Api
Persona Non Grata. Persona Non Grata
sendiri adalah sebuah kiasan dari bahasa Latin untuk orang-orang yang
keberadaanya tidak diinginkan atau tidak diperlukan. Dalam beberapa konteks
yang lebih umum, orang-orang yang masuk ke dalam Persona Non Grata ini adalah
mereka yang tidak pernah cukup untuk mendapatkan perhatian khusus kita. Karena
memang pada dasarnya orang-orang ini menurut sesuatu yang kita anggap penting
atau tidak, orang ini akan lebih condong ke subjek yang tidak penting. Mungkin
saja benar adanya. Namun jika kita mau sedikit untuk menoleh dan berfikir
secara objektif, orang-orang Persona Non Grata ini mewakili sesuatu yang sangat
penting dalam proporsinya sendiri.
Penjaga pintu Palang Kereta api. Sedikit
dari kita mungkin akan bertanya-tanya apakah orang-orang seperti ini
benar-benar exist? Toh bukannya Pintu kereta api sudah otomatis ada palang yang
naik turun ketika sudah waktunya? Iya memang beberapa ada yang sudah dilengkapi
dengan palang, namun ada pula beberapa jalur Kereta api yang benar-benar tidak
ada palang untuk mengingatkan adanya Kereta yang sedang lewat. Dan jika hal ini
masih kita anggap remeh, maka kita akan merasa cukup bersalah untuk melihat
adanya beberapa korban kecelakaan.
Pak Karno adalah seorang Penjaga
perlintasan Kereta api tanpa palang yang berada di salah satu daerah bernama
Kebonsari di Kecamatan Jambangan, Surabaya. Jauh dari hiruk pikuk Surabaya yang
seperti semestinya. Tiap malam mulai pukul 9 malam Pak Karno ini selalu pamitan
ke Istri tercinta dan anak-anak yang lucu untuk sejenak menjaga Palang Kereta
Api. Pak Karno sendiri kebagian jadwal mulai pukul 21:00-01:00 WIB tiap
harinya. Tidak ada hari libur yang pasti dan tanpa ada gaji. Hidup memang
keras, dan Pak Karno tetap menjalaninya dengan ikhlas.
Orang-orang seperti inilah yang
sebenar-benarnya sebuah contoh dari sikap masyarakat Indonesia yang menjunjung
tinggi sifat kolektif dalam gotong royong. Dengan tanpa digaji, Pak Karno tetap
menjalani pekerjaan ini dengan tetap optimis. Lalu jika tidak ada gaji,
darimana Pak Karno ini dapat uang untuk sekedar makan atau minum? Pak Karno
biasanya mendapat beberapa Rupiah dari pengendara baik hati yang lewat
perlintasan tersebut. Dalam sehari, Pak Karno berucap bahwa bisa mendapat uang
disekitaran angka 50 ribu Rupiah. Tapi angka tersebut bisa saja turun drastis
ketika hujan turun. Namun begitulah hidup, Pak Karno tetap bisa tersenyum
ketika kami wawancarai.
Setelah beberapa saat kami diberi
kesempatan untuk mewawancarai Pak Karno, kami sadar bahwasanya tiap-tiap orang
memiliki preferensi dengan porsi masing-masing yang tiap-tiap porsinya mewakili
sebuah manfaat untuk masyarakat sekitar. Tidak perlu menjadi pribadi yang
muluk-muluk untuk bisa terlihat didalam sebuah masyarakat. Karena sebesar-besarnya
pribadi adalah mereka yang rela membantu orang lain. Seperti Pak Karno ini.
Pada akhir wawancara kami dengan Pak Karno, Beliau sebenarnya masih memiliki
sebuah keinginan untuk mendapat perhatian lebih dari pihak terkait.
Pertemuan kami dengan Pak Karno sudah
sampai diujung. Kami mendapat cukup pelajaran yang dapat kami jadikan Kiblat
dalam berbuat baik di kemudian hari. Pak Karno adalah salah satu dari sekian
contoh orang baik yang keberadaannya sering kita abaikan. Namun yang pasti,
kita semua memerlukan orang-orang seperti Beliau. Biarlah fenomena seperti ini
bisa menjadi perhatian untuk tiap-tiap orang. Karena ketika kita ingin menolong
orang lain, kita bisa memulai kapan saja, dan dimana saja. Seperti halnya Pak
Karno.
Terima kasih Pak Karno, biarlah semangat
dari Beliau dapat menjadi lilin bagi kita semua. (Karen Wibi Hariyanto
1643010106)
Komentar
Posting Komentar