Langsung ke konten utama

Kelana Malam

Jalan-jalan di Pasar Malam Kodam Brawijaya
Baru saja dan  belum cukup lama-lama sekali ketika seperti biasanya dengan lamunan untuk membuat sebuah awalan paragraph features yang selalu macet di awal. Seperti apa tulisan yang pantas untuk dimuat dalam Majalah After dark ini yang bisa dimasukkan dalam Rubrik Kelana malam. Karena pada dasarnya jalan-jalan malam merupakan hal yang sangat lumrah dijalani masyarakat Indonesi apada umumnya. Tapi apa yang beda? Oh iya Pasar malam! Pasar malam adalah sesuatu yang cukup unik menurut saya dan mungkin cukup unik bagi para pembaca. Ketika baru memikirkan tentang Pasar malam, seakan-akan ingatan kita ditarik ke beberapa tahun belakang ketika Pasar malam menjadi sebuah puncak peradaban Manusia dan ajang pamer untuk orang-orang Borjuis di masanya.
Kembali ke Pasar malam, Pasar malam pada dasarnya adalah tempat para penjual dan pembeli bertransaksi seperti pasar di pagi hari, tapi ini malam. Seperti itu intinya! Ketika masyarakat dewasa ini yang lebih memilih Mall yang dapat menigkatkan status sosial, Pasar malam ini masih saja exist di setiap sudut kota besar maupun kecil. Dan di Pasar malam ini biasanya barang dan makanan yang dijual memang barang dan makanan yang harganya sedikit miring. Namun dengan harga yang miring tersebut tidak dapat kita langsung asumsikan bahwa barang dan makanan disini murahan juga. Kualitas yang ada di Pasar malam ini enggak bakal mengecewakan kok.
Dan jalan-jalan yang dilakukan oleh Tim AfterDark sendiri adalah jalan-jalan di Pasar malam Kodam Brawijaya di Surabaya, kemarin malam di tanggal 3 Mei. Kesan pertama ketika mulai masuk ke wilayah Pasar malam ini adalah Pasar ini benar-benar luas dan pengunjung yang sangat ramai untuk ukuran pribadi saya. Pasar ini mulai beroperasi setelah selepas Maghrib dan mulai tutup sekitar pukul 22:00-24:00 WIB. Memang cukup sebentar, namanya juga Pasar malam.
Karena memang Tim AfterDark enggak cukup-cukup banyak uang, jadi jalan-jalan pada malam hari tersebut memang jalan-jalan secara harfiah dan enggak beli barang apa-apa. Paling mentok kemarin cuman beli Susu segar yang harganya cuman Rp.7500,-. Pengunjung pasar ini sendiri mayoritas adalah pengunjung yang datang dengan keluarga, namun ada pula beberapa Pasangan muda-mudi yang datang kesini untuk kencan dengan raut muka si cewek yang sedikit jutek karena cuman dibelikan Es Kepal Milo.
Makanan di Pasar malam ini juga sangat bervariasi, mulai dari penyetan, penyetan, dan penyetan. Hehe, becanda. Banyak kok makanan di Pasar malam ini yang harganya sangat bervariasi mulai dari makanan yang sangat murah dan cukup mahal. Pengunjung memiliki pilihan yang dapat disesuaikan dengan tanggal mereka gajian. Selain dari penjual makanan dan pakaian ada lagi beberapa penjual yang cukup unik. Satu yang menjadi perhatian saya adalah ada satu penjual dengan berjualan lesehan, Bapak ini menjual Pedang. Iya Pedang! Saya juga masih bingung esensi apa yang Bapak ini pengen tunjukkan dari menjual Pedang. Tapi cukup ramai hloo.
Seperti itu jalan-jalan dari Tim AfterDark di Kodam Brawijaya Surabaya. Karena rencana awal jalan-jalan, ya kita pulang ketika sudah capek, bukan karena sudah kekenyangan. Namun sebelum kami pulang, kami sempat dengan sengaja untuk melihat Konser Dangdut di salah satu podium yang sudah disediakan. Pasar malam dan Dangdut adalah dua dari sekian budaya dari Indonesia yang unik dan saling melengkapi. Pasar malam akan kurang menarik kalau tidak ada Dangdut, hmm. Sudah membudaya karena sejaimnya kamu di masyarat sekitar, kamu bakalan joget juga kalau Mbak-mbak Biduan sudah mulai angkat Mic. Emang dasarnya Dangdut sudah mendarah daging di Masyarakat Indonesia.
Sekian dulu Rubrik Kelana Malam ini, semoga kita tetap bisa melestarikan Pasar malam sebagai budaya dari Indonesia yang pantas untuk kita cintai dan sayangi. Jangan lupa sesekali untuk datang ke Pasar malam sekitar rumah kalian. Nanti juga bakal nemu sendiri enaknya di Pasar malam. See ya!(Fauzi Kurniawan 1643010088)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama : Lukman Hakim Kelas : B43 NPM :1643010119 Paradigma Puasa di Bulan Rajab Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang atau saat memasuki bulan Rajab, mulai bertebaran broadcast di whatsapp, line, instagram ataupun media sosial lain tentang keutamaan puasa Rajab. Ada-ada saja yang mengkhususkannya, seperti puasa bulan Rajab disunnahkan 27 hari, ada pula yang mengkhususkan pada tanggal 1 Rajab saja, atau pada Nisfu (pertengahan) Rajab. Selain itu, ada juga yang mengkhususkan puasa hanya ada pada tanggal 27 bulan Rajab. Bahkan ada pula yang mengkhususkan puasa cukup pada awal, pertengahan, dan akhir bulan Rajab. Seperti yang diketahui, terkadang puasa di bulan Rajab menjadi perbincangan hangat di masing-masing kalangan luas, ada yang pro dan ada yang kontra bak perbincangan pelaku penyiram air keras kepada novel baswedan yang tak kunjung ditemukan jejaknya dan masih menjadi sebuah tanda tanya besar kapan tertangkap. Bingung? Penasaran kan?
Pendidikan Politik dan Kampanye Oleh Ibnu Rusman Saleh 1643010107 PEMILIHAN  apa pun namanya dari pemilihan kepala negara hingga kepala desa tetap saja mewajibkan upaya pendidikan politik bagi pemilih. Pemilihan sebagai prasyarat ketentuan legalitas pemberian hak suara rakyat kepada pemimpin dalam mengelola pemerintahan. Kepemimpinan berbasis pemilihan ini bertujuan menjaga kedaulatan rakyat (Pasal 1 ayat 2 UUD 1945) sesuai konstitusi Indonesia. Pemilihan ini dikatakan memenuhi hak-hak memilih bila dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Pasal 22E ayat 1 UUD 1945). Mungkin ini menjadi dasar mengapa semua pemilihan sekarang menggunakan pemilihan langsung mulai dari pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan legislatif, pemilihan kepala daerah, pemilihan kepala desa hingga pemilihan RT/RW pun banyak menggunakan cara langsung. Pascareformasi, pemilihan umum langsung merupakan bentuk pilihan sadar dalam menjaga "kedaulatan rakyat...
Nama   : Ivan Divya Fauzan Kelas   : B43 NPM   : 1643010025 Satay Gahol, Jajanan Murah Penunda Lapar Sembari menunggu pergantian mata kuliah, Lukman dan kawan-kawannya dilanda perdebatan yang tidak terlalu cukup serius. Mereka berdebat apakah iya mereka harus makan Mie ayam atau Ayam Geprek di Kantin, Secara kedua makanan itu tergolong kedalam makanan dengan porsi berat. Menjadi perdebatan karena separuh diantara mereka sudah kenyang, setengahnya lagi sudah tidak lapar, lho . Selain faktor porsi mereka terlalu malas untuk menerjang terik matahari yang menaungi antara Kantin Kuda dan Gedung FISIP II UPNVJT, ini tidak berlaku pada Lukman . Namun diantara faktor-faktor tersebut ada faktor paling dominan yaitu tanggal tua, ya mereka belum mendapat kiriman dari kampung . Terjawab sudah akhir dari perdebatan ini, mereka tidak jadi ke Kantin dan memilih Hape-an di Kelas sembari menunggu kuliah. Fenomena perdebatan seperti ini tidak hanya dialami ...