Langsung ke konten utama
Orang Tua, Anak, dan ‘Jajanan rak di Kasir’

Oleh Ivan Divya Fauzan 1643010025

            Sebagai masyarakat kekinian, kita tidak bisa terlepas dari tren belanja dengan konsep swalayan seperti minimarket. Tempat tersebut menjadi pilihan instan bagi kita untuk berbelanja, mulai sekadar membeli minuman pelepas dahaga hingga belanja kebutuhan bulanan, semuanya tersedia lengkap. Tak perlu susah-susah mencarinya, Kehadiran minimarket pun menjamur dari mulai gang-gang sampai pusat kota. Untuk berbelanja, kita bisa berbelanja sendirian, bersama teman kantor atau keluarga, termasuk bersama anak-anak kita.
            Sebagai penyedia kebutuhan masyarakat dengan konsep swalayan, minimarket memudahkan kita untuk mencari barang-barang dengan rak-rak sesuai kategori. Mulai deretan sembako, kulkas minuman, perlengkapan mandi, hingga obat pembasmi serangga, semuanya tersusun rapi. Namun jangan salah, tidak semua barang diletakan sesuai dengan kategorinya. Diantara rapinya penataan barang minimarket, terdapat tempat spesial yang menampung produk tertentu. Rak spesial tersebut terletak di depan meja kasir.
            Tentu bukan rak spesial namanya jika tidak menghadirkan produk spesial pula. Sebuah produk jajanan anak dengan merek dagang kinderjoy mendapat kehormatan untuk tertata rapi di rak tersebut. Meskipun jajanan tersebut telah sejak lama berada di rak spesial, Belakangan kinderjoy menjadi pembicaraan hangat di dunia maya. Bermula dari curhatan akun facebook  Alice Pramac yang menuliskan surat permohonan kepada seluruh supermarket dan minimarket di Indonesia, agar tidak meletakkan camilan Kinderjoy di dekat kasir. Sistem penempatan tersebut membuat anaknya merengek meminta untuk dibelikan.
 Memalui sebuah ‘surat’, Alice Pramac menyampaikan keluh kesahnya. Berikut isi surat tersebut "KEPADA, SEMUA SUPERMARKET, MINIMARKET. Indonesia. PERMOHONAN UNTUK TIDAK MELETAKKAN JUALAN INI DI DEKAT KASIR "Berdasarkan pada hal di atas, saya mewakili bapak-bapak di seluruh Indonesia memohon agar pihak minimarket, supermarket untuk meletakkan barang (spt dlm gambar) ke tempat lain selain di kasir.
 Pertama, Ini dikarenakan kami bapak2 tidak mampu untuk melayani kecengengan anak yg sangat menginginkan jualan ini sehingga terjadilah episode guling2 didepan kasir yg juga menyebabkan kami malu.
Kedua, Selain daripada itu, harga yg sangat mahal (sama dengan 1liter minyak goreng), jualan ini juga tidak memberi manfaat kpd anak2 kami. Orang lain bolehlah sudah kaya dan bisa beli banyak barang ini, Saya ini cuma pegawai yg bergaji rendah yg hanya mampu membeli mainan seharga Rp2000 itupun tangan bergetar saat bayar) di penjual mainan keliling yang datang tiap sabtu minggu tanpa putus asa membunyikan klakson spesialnya.
Ketiga Pihak toko berfikirlah, setiap kali saya berbelanja, anak saya pasti beli jualan ini dan anak saya ada 2, kalau beli 2 hilang lagi 30ribu, itu sudah dapat beras 5 kg, sudah bisa buat makan sebulan.
"Sehubungan dengan itu saya berharap pihak toko dapat mempertimbangkan serta merealisasikan impian saya juga impian setiap bapak2 di negara ini. Atas perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih. sekian,". Tulisan Alice ini tuai perhatian pengguna media sosial dan menjadi viral. Nyatanya tidak hanya ia yang merasa demikian, banyak orang tua yang juga memiliki keresahan serupa. Mereka memberikan komentar dukungan terkait keresahan tersebut.
            Dari surat tersebut terdapat tiga poin utama yang berusaha disampaikan oleh Alice mewakili perasaan orang tua di seluruh pelosok negeri. Pertama, orang tua merasa tidak tega terhadap rengekan anaknya sehingga membuat mereka malu. Kedua, harga dari Kinderjoy terlampau mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Ketiga, harga Kinderjoy setara dengan kebutuhan pokok yang lain seperti beras dan minyak.
            Bagi yang belum mengetahui kinderjoy, jajan ini merupakan snack ringan yang pasarnya ditujukan bagi anak-anak usia sekitar TK sampai dengan SD. Kemasan dari jajanan tersebut cukup lucu yaitu berbentuk telur berwarna dasar oranye dan putih. Saat dibuka jajan tersebut akan menjadi dua bagian. Sisi pertama berisi snack coklat dengan krim susu sedangkan sisi yang lain berisikan hadiah berupa mainan kecil.
            Entah mengapa jajanan ini menjadi favorit bagi anak-anak. Mungkin mereka menyukai rasa dari snack tersebut atau menyukai mainannya. Berbeda dengan anak-anak, di sisi lain, pihak orang tua merasa jajanan tersebut kurang sebanding untuk ditebus ke kasir. Pasalnya dengan harga 10 hingga 12 ribu, Kinderjoy hanya berisikan jajanan yang sangat keci, bahkan dari keseluruhan isi kemasan, hanya separuhnya saja yang berisikan jajanan. Mungkin bagi sebagian golongan harga yang dipatok terhadap produk jajanan tersebut tidak menjadi masalah, namun bagi masyarakat yang pendapatannya pas-pasan akan keberatan.
            Selain dari segi harga jual, aspek penting yang mendukung kelarisan jajanan tersebut apa lagi kalau bukan posisi peletakannya yang spesial. Ia tidak berkumpul dengan jajanan yang lain, melainkan berada di Rak depan meja kasir. Siapa pun yang memilih strategi marketing ini patut diberi apresiasi berkat kecerdasannya. Mungkin ia melakukan riset mendalam serta melalui berbagai kajian untuk meletakan jajan tersebut di rak ‘spesial’. Tinggi rak kasir kurang lebih sama dengan tinggi anak-anak dan jika ditarik garis lurus, posisi dari kinderjoy akan berada persis didepan mata mereka. Sehingga momen merengek minta kinderjoy, seringkali terjadi saat para orang tua melakukan pembayaran di kasir. 
            Kehadiran Kinderjoy memang mampu memberikan warna tersendiri bagi belantika dunia perjajanan tanah air. Dia mampu menciptakan sekat-sekat di kalangan anak-anak. Lebih dari itu, Kinderjoy terkadang mengakibatkan perselisihan vertikal antara anak-anak dan orang tua. Namun selalu pada akhirnya perselisihan itu selalu dimenangkan oleh sang anak. Orang tua mana yang tega melihat anaknya menangis tersedu-sedu didepan meja kasir, kan malu. (Ivn)

Komentar