Langsung ke konten utama

Nama   : Karen Wibi Hariyanto
Kelas   : B43
NPM   : 1643010106

Degradasi atau Gradasi Moral?


            Beberapa tempo lalu, dengan kebiasaan pada lamunan sore hari di teras rumah. Dengan sangat tidak sengaja terdengar lirih Ibu-ibu sekitar komplek rumah yang sedang berbincang-bincang mengenai anak muda jaman sekarang. Cukup panjang apa yang mereka bincangkan, namun ada satu poin yang cukup mendapat perhatian saya. Dengan celotehan serasa tanpa dosa, mereka katakan pergaulan anak muda jaman sekarang rusak, tidak seperti jaman mereka dulu. Saya diam, sedikit terpelatuk, namun tidak cukup marah demi menjaga nama baik Bapak saya yang kebetulan menjadi Ketua RT setempat. Lalu saya berfikir, apakah benar Generasi anak muda jaman sekarang benar-benar mengalami Degradasi moral? Atau cuman Gradasi saja?
            Menurut KBBI, Degradasi adalah suatu bentuk kemunduran, kemerosotan, penurunan, dsb. Dan Gradasi adalah susunan derajat atau tingkat atau tingkat peralihan suatu keadaan pada keadaan lain. Kembali pada topik diatas, menurut saudara apakah benar bahwasanya Generasi anak muda saat ini mengalami suatu degradasi moral? Atau cuman Gradasi? Saya mengambil beberapa sampel, beberapa masyarakat menyatakan bahwa anak kecil itu gaboleh ngerokok atau adalagi yang selalu berkomentar negatif mengenai Perempuan yang di sudut café sedang menyalakan Rokok rasa Mind favoritnya. Namun di satu sisi lainnya saya banyak menemui beberapa Bapak-bapak yang katanya sudah merokok sejak saat kecil, seperti halnya anak kecil jaman sekarang. Jadi, gimana?
            Banyak lagi tentang celotehan-celotehan lain yang selalu berkomentar tentang bagaimana Generasi saat ini bersikap. Kata mereka tentang anak perempuan pada jaman dulu lebih sregep mengurus rumah, nyapu, masak, ngepel dan lain sebagainya. Tapi menurut hemat saya, itu hanya masalah preferensi, memang perempuan jaman dulu pandai dalam melakukan pekerjaan rumah. Namun sebagai gantinya, anak perempuan pada jaman saat ini lebih maju dalam banyak hal. Seperti melek huruf, dapat maju dalam suatu ajang politik, atau dapat diandalkan dalam berbagai banyak bidang yang dulunya tidak cukup masuk akal untuk dilakukan perempuan. Jadi, gimana?
            Lucu yaa? Selalu ada alasan penolakan mengenai budaya yang ada saat ini. Saya rasa segala bentuk penolakan tersebut diakibatkan oleh adanya Cultural Shock. Apa itu Cultural Shock? Cultural Shock adalah perubahan nilai budaya seiring dengan perkembangan jaman dan wawasan yang makin berkembang. Mungkin sedikit dapat dengan cepat saya simpulkan, tiap-tiap generasi selalu memiliki pembenaran akan budayanya sendiri, dan penolakan akan budaya-budaya selanjutnya. Jadi mungkin saja Bapak-Ibuk kita juga menerima kritik dari Kakek-Nenek kita yang mungkin sama persis seperti Bapak-Ibuk kita yang mengkritik kita.
            Mungkin dapat kita tarik lebih jauh lagi mengenai kebenaran Moral ini, pada dasarnya moral dengan segala macam hal yang melatar belakangi ini hanya tergantung pada waktu ia berada. Mengenai Relativisme, konsep benar dan salah adalah sesuatu yang tergantung pada waktu. Apa yang saat ini kita Amini benar, belum tentu menjadi hal yang benar dilain waktu. Kita tidak dapat dengan langsung menghakimi suatu moral orang-orang dari suatu generasi lain dengan hanya memakai kacamata moral kita saat ini.
            Teruntuk Ibu-ibu Komplek perumahanku, atau untuk seluruh Orang tua di Semesta ini. Apa masih yakin Generasi anak muda saat ini mengalani kemrosotan moral? Kan Moral ini hanya masalah preferensi, toh moral sifatnya dinamis atau berubah-ubah. Jangan cepat menghakimi dengan segala generalisasi yang ada. Kalau kata Pak Jalaludin Rakhmat dalam bukunya berjudul Rekayasa Sosial, generalisasi ini namanya Fallacy of dramatic Instance, dan itu gaboleh. Yuk mari bangun Generasi ini bersama dengan tidak saling menyalahkan Generasi yang lalu dan yang akan datang.
           



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama : Lukman Hakim Kelas : B43 NPM :1643010119 Paradigma Puasa di Bulan Rajab Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang atau saat memasuki bulan Rajab, mulai bertebaran broadcast di whatsapp, line, instagram ataupun media sosial lain tentang keutamaan puasa Rajab. Ada-ada saja yang mengkhususkannya, seperti puasa bulan Rajab disunnahkan 27 hari, ada pula yang mengkhususkan pada tanggal 1 Rajab saja, atau pada Nisfu (pertengahan) Rajab. Selain itu, ada juga yang mengkhususkan puasa hanya ada pada tanggal 27 bulan Rajab. Bahkan ada pula yang mengkhususkan puasa cukup pada awal, pertengahan, dan akhir bulan Rajab. Seperti yang diketahui, terkadang puasa di bulan Rajab menjadi perbincangan hangat di masing-masing kalangan luas, ada yang pro dan ada yang kontra bak perbincangan pelaku penyiram air keras kepada novel baswedan yang tak kunjung ditemukan jejaknya dan masih menjadi sebuah tanda tanya besar kapan tertangkap. Bingung? Penasaran kan?
Pendidikan Politik dan Kampanye Oleh Ibnu Rusman Saleh 1643010107 PEMILIHAN  apa pun namanya dari pemilihan kepala negara hingga kepala desa tetap saja mewajibkan upaya pendidikan politik bagi pemilih. Pemilihan sebagai prasyarat ketentuan legalitas pemberian hak suara rakyat kepada pemimpin dalam mengelola pemerintahan. Kepemimpinan berbasis pemilihan ini bertujuan menjaga kedaulatan rakyat (Pasal 1 ayat 2 UUD 1945) sesuai konstitusi Indonesia. Pemilihan ini dikatakan memenuhi hak-hak memilih bila dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Pasal 22E ayat 1 UUD 1945). Mungkin ini menjadi dasar mengapa semua pemilihan sekarang menggunakan pemilihan langsung mulai dari pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan legislatif, pemilihan kepala daerah, pemilihan kepala desa hingga pemilihan RT/RW pun banyak menggunakan cara langsung. Pascareformasi, pemilihan umum langsung merupakan bentuk pilihan sadar dalam menjaga "kedaulatan rakyat...
Nama   : Ivan Divya Fauzan Kelas   : B43 NPM   : 1643010025 Satay Gahol, Jajanan Murah Penunda Lapar Sembari menunggu pergantian mata kuliah, Lukman dan kawan-kawannya dilanda perdebatan yang tidak terlalu cukup serius. Mereka berdebat apakah iya mereka harus makan Mie ayam atau Ayam Geprek di Kantin, Secara kedua makanan itu tergolong kedalam makanan dengan porsi berat. Menjadi perdebatan karena separuh diantara mereka sudah kenyang, setengahnya lagi sudah tidak lapar, lho . Selain faktor porsi mereka terlalu malas untuk menerjang terik matahari yang menaungi antara Kantin Kuda dan Gedung FISIP II UPNVJT, ini tidak berlaku pada Lukman . Namun diantara faktor-faktor tersebut ada faktor paling dominan yaitu tanggal tua, ya mereka belum mendapat kiriman dari kampung . Terjawab sudah akhir dari perdebatan ini, mereka tidak jadi ke Kantin dan memilih Hape-an di Kelas sembari menunggu kuliah. Fenomena perdebatan seperti ini tidak hanya dialami ...